Sejarah

Cikal bakal Pondok Pesantren ini berasal dari Pondok Pesantren Sunggingan yang didirikan oleh KH Noor Hadi (salah satu tokoh pejuang dari Kudus) pada masa penjajahan Belanda. Setelah KH Noor Hadi wafat pada tahun 1950, Pondok Pesantren diteruskan oleh menantunya, yaitu KH Nadhirun hingga wafat pada tahun 1958. Saat KH Nadhirun wafat, putranya yaitu Abdullah Zaini masih berusia 12 tahun, sehingga terjadi kekosongan generasi pengelola pesantren.

Pada tahun 1985, KH Abdullah Zaini menghidupkan kembali Pondok Pesantren dengan nama Pondok Pesantren Kyai Noor Hadi. Pada tahun 1999, KH Abdullah Zaini mendapat restu dari guru beliau Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan) yang merupakan Guru Mursyid Thoriqoh Syadzaliyah untuk menggunakan nama Syadzaliyah. Sehingga kemudian nama pesantren menjadi Pondok Pesantren Syadzaliyah Kyai Noor Hadi. Setelah wafatnya KH Abdullah Zaini Nadhirun di tahun 2005, kepemimpinan Pondok Pesantren Syadzaliyah Kyai Noor Hadi diteruskan oleh putra beliau, yaitu KH Muhammad Agus Nafi, S.Ag., M.Pd.I.

Pada tahun 2007 Pondok Pesantren Syadzaliyah Kyai Noor Hadi memiliki status badan hukum yayasan dengan nama Yayasan Pondok Pesantren Syadzaliyah Kyai Noor Hadi. Pada tahun 2016 dilakukan perubahan nama resmi yayasan menjadi YAYASAN SYADZALIYAH KYAI NOOR HADI, disingkat YASIN, melalui Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor AHU-0000428.AH.01.01.TAHUN 2016. Sejak saat itu digunakan nama PONDOK PESANTREN YASIN sebagai nama resmi pondok pesantren ini, dengan izin operasional dari Kementerian Agama Republik Indonesia nomor 1394 Kk.11.19/3/PP.00.7/03/2018.

Seiring dengan jumlah santri yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, dilakukan pengembangan Pondok Pesantren Yasin dengan membangun dua gedung (masing-masing gedung memiliki 3 lantai dan 4 lantai) serta mendapat waqaf satu bangunan rumah dengan 1 lantai. Ketiga bangunan tersebut terletak di desa Sunggingan, kecamatan Kota Kudus, dengan kapasitas total 15 kamar untuk menampung sekitar 150 santri. Pada tahun 2017 mulai dilakukan pengembangan pesantren lebih lanjut dengan melakukan pembangunan gedung baru di desa Bae, kecamatan Bae, Kudus di atas tanah wakaf seluas 3.410 meter persegi. Di lokasi ini didirikan sekolah formal bernama SMP┬áTAHFIDH MA’HAD YASIN dan juga gedung asrama bagi santri yang menempuh pendidikan di SMP tersebut.